Judul: Sunset Bersama Rosie
Penulis: Tere Liye
Penerbit: PT Sabak Grip Nusantara
Tahun terbit: (tidak tercantum)
Tebal halaman: 410 halaman
Ukuran buku: 20,5×13,3cm
ISBN: 978-623-96074-6-3

Resensi:

Salah satu hal yang menyakitkan dalam hidup adalah tidak punya kesempatan untuk menyatakan cinta. Itulah yang dialami oleh Tegar dalam novel karya Tere Liye ini. Novel bergenre romansa ini menjadikan “kesempatan” sebagai topik utama.

Novel yang berlatar belakang Provinsi Bali ini, mengangkat isu Bom Jimbaran yang terjadi di Denpasar. Peristiwa ini menjadi pemicu konflik utama. Sebuah keluarga harmonis; sepasang suami istri–Nathan dan Rosie–dengan empat orang anak yang tengah merayakan pesta ulang tahun pernikahan di sebuah restoran di Denpasar, mendadak menjadi keluarga yang paling menyedihkan.

Tegar sendiri merupakan sahabat Nathan dan Rosie. Sejak musibah menimpa keluarga kecil ini, dialah orang yang paling sibuk mengambil alih seluruh peran. Mulai dari pemakaman salah satu anggota keluarga hingga masa-masa pemulihan yang cukup berat terutama bagi anak-anak.

Buku ini tidak menyajikan banyak tokoh sehingga cerita tidak membingungkan. Bahkan to the point pada permasalahan utama. Watak masing-masing tokoh juga sangat kental. Seperti empat orang anak yang diberi nama dengan nama-nama bunga yaitu Anggrek, Sakura, Jasmine, dan Lili. Anggrek dengan karakter yang bijaksana, berwibawa, dan dewasa. Sementara Sakura yang jahil, nakal, dan hobi protes ini-itu. Jasmine yang pengertian dan Lili dengan karakter pemalu sekaligus centil. Saya sendiri sangat terhibur dengan karakter Sakura hingga tak bisa berhenti tertawa membayangkan tingkah-tingkah anehnya.

Konflik yang disajikan dalam cerita ini cukup ringan dan familiar di lingkungan kita. Siapapun yang membaca–sekalipun tidak familiar dengan suasana Bali–akan mudah saja memahami konflik, atau bahkan ikut hanyut dalam cerita. Meski begitu, bahasa yang digunakan malah terasa berat. Pembaca yang biasa membaca karya fiksi populer tampaknya perlu energi lebih untuk memahami kalimat demi kalimatnya.

Selain itu, ada sebuah momen epik yang sering diulang-ulang, yaitu momen menyakitkan yang dialami Tegar kala turun dari Gunung Rinjani belasan tahun silam. Momen ini bahkan cenderung terlalu sering diceritakan meski bertujuan untuk mengenang. Mungkin penulis memang hendak mengajak pembaca untuk larut dan hanyut dalam momen tersebut. Namun, karena penggunaan kalimat yang sama dan cenderung itu-itu saja, membuat saya sendiri malah merasa bosan dan jenuh membacanya.

Pada detik-detik akhir cerita, saya malah kecewa berat. Novel ini memiliki ending yang terkesan terburu-buru–keputusan Tegar untuk memilih siapa yang akan dinikahinya dan siapa yang akhirnya ia nikahi menumpuk dalam beberapa halaman terakhir. Meski sejauh ini, saya banyak mendapatkan pelajaran dan hikmah kehidupan, baik melalui nasihat-nasihat yang tertulis maupun yang tersirat dalam cerita, terutama tentang kesempatan.

By Ridha Noor Amalia

Halo! Semoga kamu suka tulisan saya. Jangan lupa share, ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!