Judul: The Book You Wish Your Parents Had Read
Penulis: Philippa Perry
Penerbit: Rene Book
Tahun terbit: Cetakan 2, Mei 2023
Tebal halaman: 392 halaman
Ukuran buku: 14 x 21cm
ISBN: 978-623-6083-39-0

Resensi:

Apa yang dilakukan orang tua sebagai orang tua? Jika kita pikir jawabannya hanya berpatok pada mengasuh dan membesarkan anak maka tidaklah cukup. Tumbuh bersama anak adalah jawaban yang lebih tepat. Buku yang mengklaim dirinya harus dibaca oleh para orang tua dan calon orang tua ini memaparkan demikian.

Ketika seorang dewasa menikah dan memutuskan untuk memiliki anak maka orang tersebut juga telah menyetujui bahwa dirinya harus tumbuh bersama anak yang ia lahirkan. Berbagai masalah dan pola pengasuhan akan datang silih berganti selama anak juga bertumbuh. Jadi kita tidak dapat mematoki diri untuk melanjutkan pola asuh yang sama ketika anak masih balita dengan ketika anak tumbuh remaja dan masuk dalam masa pubertas (saya membahas hal ini lebih detail di paragraf selanjutnya).

Pada bab awal, penulis berulang kali menggarisbawahi (menekankan) bahwa menjadi orang tua itu sama artinya kita siap untuk kembali merasakan masa kanak-kanak kita. Bahagia maupun sakit. Kita harus bersedia mengembalikan semua memori dan perasaan saat kita sedang seusia anak. Itu adalah kunci terpenting untuk hubungan yang baik antar orang tua dan anak.

Dalam kasus ini, penulis yang merupakan seorang psikoterapis membagikan beberapa kisah dan pengalaman. Mulai dari kisah pribadi, teman, kerabat, hingga kliennya (beberapa disamarkan).
Salah satu kisah yang menarik perhatian saya–terkait hubungan orang tua dan anak, yang melibatkan perasaan masa kanak-kanak orang tua dalam pengasuhan anaknya–adalah kisah Mark dan Toby.

Mark merasa stress karena terus-terusan berhadapan dengan anaknya, Toby. Berhadapan yang dimaksud di sini adalah bergantian dengan istrinya untuk memberi banyak perhatian pada Toby. Selama 24 jam yang ia miliki, ia harus mencurahkan kasih sayang dan kebersamaan dengan Toby, dan ini memberatkan Mark.

Penulis yang menjadi tempat Mark melakukan konsultasi menanyakan hubungan Mark dengan ayahnya. Menurut Mark, hubungannya dengan ayahnya baik-baik saja dan berjalan normal. Ia merasa hal tersebut tidak penting untuk dibahas. Ini merupakan tindakan penghindaran. Menghindar untuk membahas hal tersebut, justru membuktikan bahwa hal tersebut ada di posisi yang tidak mengenakkan sepanjang hidup. Sampailah pada pertanyaan “Apa makna normal tersebut bagimu, Mark?” dan Mark menjawab bahwa ayahnya pergi saat ia berusia 3 tahun dan seiring berjalannya waktu ia semakin dewasa, intensitas kunjungan itu semakin berkurang.

Mark akhirnya menyadari bahwa kepergian ayahnya adalah pemicu ia ingin menghindar dari Toby. Baginya, keberadaan ayah tidaklah penting bagi sang anak (karena demikian yang ia rasakan. Masa kecilnya dihabiskan untuk terbiasa tanpa kehadiran sang ayah). Hal ini membuat Mark merasa seharusnya ia pun boleh berjarak bahkan pergi meninggalkan Toby.

Namun atas kesadaran ini, Mark menyadari bahwa ia yang harus berdamai dengan masa kecilnya tersebut. Ini banyak membantu memperbaiki hubungannya dengan Toby. Ia jauh lebih menikmati kebersamaannya dengan Toby. Perannya sebagai ayah tidak lagi memberatkannya.

Kisah Mark merupakan satu dari banyak kisah yang dibagikan penulis demi tersimpulnya kalimat

“Penyebab depresi paling umum ketika dewasa bukanlah peristiwa pada saat itu, tetapi karena semasa kanak-kanak mereka tidak terbiasa menjalin hubungan dengan orang tua yang tenang dan nyaman”.

Karena itu, buku ini didominasi oleh pembahasan pola pengasuhan anak di usia bayi hingga balita. Demikian merupakan fase-fase penting yang akan menentukan karakter anak di masa depan, serta pola pengasuhan yang tepat di usia lebih lanjut.

Selain itu, penulis juga menegaskan pada para pembaca yang telah memiliki anak (telah melewati fase-fase kehamilan, bayi, dan balita) untuk tidak mengumpat dan menyesali jika pola pengasuhan yang telah diterapkan tampak kurang tepat bahkan salah. Penulis menggarisbawahi bahwa

“Rasa bersalah sebagai orang tua tidak akan membantu kita atau anak kita menyelesaikan masalah, yang lebih membantu ialah mengakui kesalahan dan melakukan perubahan”.

Kalimat ini berulang kali ditegaskan khususnya pada bagian awal (fase pertumbuhan anak mulai dari bayi hingga balita).

Terkait mengakui kesalahan dan memperbaikinya dengan melakukan perubahan, agaknya sering dihindari oleh para orang tua (jika Anda orang tua, mengakulah sekarang). Rasanya seperti menginjak-injak harga diri di depan anak. Padahal nyatanya tidak begitu. Anak meniru sikap orang tuanya. Jika tidak ada perbaikan atas kesalahan yang telah dilakukan orang tua maka anak akan menganggapnya sebagai sesuatu yang benar. Namun, jika orang tua membiarkan anak mengetahui bahwa ia melakukan kesalahan, meminta maaf, dan memperbaikinya, ini akan membuat anak merasa bahwa melakukan kesalahan adalah sesuatu yang lumrah sekalipun orang tua yang melakukannya.

Bahkan, hal ini memudahkan anak untuk memaklumi orang tua. Ia percaya bahwa orang tuanya telah melakukan yang terbaik. Hal ini yang saya tangkap ketika membaca buku ini. Terlalu banyak teori dalam pola pengasuhan anak. Penerapannya tentu lebih sulit, apalagi harus dihadapkan dengan keadaan yang berubah-ubah setiap waktu. Maka kesalahan yang dilakukan orang tua adalah sesuatu yang patut dan layak untuk dimaafkan dengan sepenuh hati. Meskipun kesalahan tersebut berdampak pada masa depan, dampak tersebut akan jauh lebih terminimalisir.

Itu sebabnya menurut saya buku ini bukan hanya “wajib” dibaca oleh para orang tua dan calon orang tua. Anak juga harus membaca buku ini, agar paham keadaan orang tua.

Salah satu kesalahan yang tak disadari oleh para orang tua adalah menganggap anaknya sebagai objek. Mungkin bahasa tersebut terdengar agak kasar, tapi begitulah adanya. Sejak bayi, anak tidak dibiarkan untuk memilih apa yang harus ia lakukan dan yang boleh orang tuanya lakukan padanya. Awalnya, saya kurang setuju dengan hal ini. Saya menganggap bahwa seharusnya, kebebasan tersebut diletakkan di fase lebih lanjut (remaja ke atas).

Namun menurut penulis, kebebasan anak sebagai “manusia” harus diterapkan bahkan saat ia menemui hari pertamanya di dunia ini. Orang tua menyediakan pilihan-pilihan yang dapat ia pilih. Demikian maksudnya. Dengan begitu, seiring tumbuh dan berkembangnya anak, ia akan terbiasa mempertimbangkan pendapat orang tua untuk mengambil keputusan (tidak sepenuhnya menerima seolah tidak ada pilihan lain, atau otomatis menolak).

Lalu apakah membiarkan anak menjadi manusia seutuhnya artinya membebaskan anak sepenuhnya? Tentu tidak. Kita akan mengutip fase remaja dan pubertas seorang anak. Di mana anak sedang senang-senangnya berkumpul dan bermain dengan teman-temannya. Bergabung dengan klub atau komunitas baru, berkenalan dengan banyak orang, hingga melakukan kenakalan-kenakalan lainnya.

Dalam fase ini, ada tiga teknik yang diterapkan oleh orang tua. Dua di antaranya berisiko tinggi dan cenderung menjadi kesalahan dalam menerapkan pola pengasuhan pada anak remaja. Langsung saja kita lompat ke teknik ketiga yakni kolaborasi.

Teknik ini menerapkan batasan dan pendapat anak sebagai sesuatu yang setara. Orang tua berhak membuat batasan serta anak berhak untuk memberi pendapat. Teknik ini juga melibatkan “kembali ke masa kanak-kanak orang tua”. Maksudnya, orang tua diharapkan untuk melihat dari sudut pandang anak dan untuk menetapkan batasan tersebut, orang tua diminta untuk menggunakan “dirinya sendiri” sebagai pembatas.

Misalnya, ketika anak perempuan remaja kita hendak mencoba pergi mendaki gunung bersama teman-temannya dan itu membuat kita khawatir. Jangan katakan bahwa ia belum pantas atau belum mampu untuk melakukannya. Karena pada kenyataannya (kembalilah ke masa saat kita seusia anak), kita bisa melakukannya. Anak akan mudah berbohong dan cenderung tertutup dengan kita. Ia merasa tidak dipercaya. Padahal, toh, yang kita katakan tidak benar. Ia mampu melakukannya.

Lalu bagaimana cara yang tepat? Katakan dengan jujur bahwa kitalah yang khawatir dan belum siap untuk memikirkan keadaannya tersebut. Gunakan kalimat, “Ibu/ayah belum siap melihatmu harus mendaki gunung di usia ini. Mungkin kamu merasa bisa dan mampu. Tapi izinkan ibu/ayah mempersiapkan diri dulu, ya.” Anak akan menaruh perhatian lebih pada orang tuanya. Ia tidak akan merasakan krisis kepercayaan diri dan hebatnya, ia akan jauh lebih pengertian karena terbiasa dijelaskan keadaan yang sebenarnya.

Masih ada banyak lagi hal yang dapat kita pelajari dari buku ini. Selain bahasa yang digunakan ringan, penulis juga merincikan setiap fase perkembangan anak, sebagai bukti bahwa orang tua ikut tumbuh bersama anak. Menjadi orang tua artinya siap untuk belajar, berkembang, dan beradaptasi dengan anak. Pola pengasuhan akan terus berubah seiring bertambahnya usia anak. Anak tidak membutuhkan terlalu banyak perhatian saat remaja, berbeda saat bayi di mana ia justru menyita perhatian orang tua.

Secara keseluruhan, buku ini memang bagus. Hanya saja, sebagai pembaca, saya rasa buku ini akan jauh lebih menarik jika warna merah dan biru nyentrik pada sampul juga ikut dituangkan dalam kalimat-kalimat kutipan dan pembuka bab. Ini akan menambah kesan menyenangkan selama membaca (apalagi topik yang diangkat menurut saya agak berat).

Sebelum saya menutup resensi ini, kita semua harus tahu bahwa “Memiliki anak terasa seperti: Satu menit Anda melewati jalan terasa lebih lambat karena kaki mungilnya hanya bisa membuat langkah-langkah kecil. Tak lama setelah itu, kecepatan langkah Anda dan anak akan sama, kemudian mereka akan mendahului Anda dan Anda harus berlari untuk mengejarnya”.

Buku ini akan menjadi buku yang akan saya baca ulang (bahkan saya bertekad untuk meneruskannya ke anak-cucu sebagai sesuatu yang harus dibaca) guna membantu saya memahami anak-anak saya kelak. Semoga Anda juga begitu.

By Ridha Noor Amalia

Halo! Semoga kamu suka tulisan saya. Jangan lupa share, ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!