Judul: Jangan Membuat Masalah Kecil Jadi Masalah Besar
Penulis: Richard Carlson
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Agustus 2022
Tebal halaman: xix+234 halaman
Ukuran buku: 13,5x19cm
ISBN: 978-6025-254-91-8

Resensi:

Tidak ada orang yang suka dikoreksi. Ketika kita berdiskusi atau mengobrol dengan teman atau kerabat kerja, kadang kala kita menemukan kekeliruan dalam ucapan lawan bicara. Sering kali pula, kita memilih untuk langsung mengoreksinya bahkan hingga menimbulkan perdebatan. Hal semacam ini disebut masalah kecil yang seharusnya tidak perlu dibesar-besarkan.

Dalam buku karya Richard Carlson ini, terdapat 100 bab yang masing-masing bab berisi satu masalah kecil yang sering terjadi di kehidupan kita. Mulai dari khawatir jika tidak menyelesaikan tugas sesuai deadline (padahal sudah diusahakan), kebaikan yang tidak diakui, hingga kesal jika mendapati pengendara yang ugal-ugalan di jalan.

Richard membantu kita untuk menelaah masalah tersebut. Apakah masalah tersebut akan menjadi masalah besok atau satu tahun ke depan? Jika tidak maka tidak perlu diambil pusing. Seperti yang tertulis di paragraf awal tulisan ini. Jika ucapan kerabat kerja yang salah tersebut tidak memengaruhi kehidupan kita di masa depan (entah besok, lusa, atau lebih lama lagi), baiknya kita biarkan saja ia merasa benar dengan ucapannya. Jika itu sebuah masalah yang memengaruhi masa depan, kita cukup mengoreksinya satu kali, dan biarkan kerabat kerja kita merespons dengan caranya sendiri. Entah mengelak (merasa dirinya tetap benar) atau mengaku bahwa dirinya salah.

Cara sederhana tersebut dapat meminimalisir masalah dalam hidup. Membuat kita hanya fokus pada masalah-masalah yang besar, yang memang memengaruhi masa depan. Kita hanya akan fokus pada hal-hal yang benar-benar penting. Meski Richard bilang bahwa tidak ada masalah yang cukup besar untuk dikhawatirkan apalagi secara berlebihan. Bahkan ketika kita mati pun, tugas-tugas kita akan segera diselesaikan oleh orang lain. Tugas yang kita khawatirkan karena tidak selesai sesuai deadline, akan diselesaikan oleh karyawan baru yang direkrut tepat beberapa hari setelah kematian kita. Begitulah memang hidup ini berlangsung.

Richard sangat lihai memaparkan penjelasan dalam tiap bab, hingga terangkai menjadi 100 bab (seperti yang saya sampaikan di paragraf awal). Dimulai dari masalah yang sering terjadi, bagaimana kesalahan kita dalam menanggapi masalah tersebut, hingga cara yang tepat–yang seharusnya kita lakukan untuk menanggapi masalah tersebut. Nah, sebelum mengeluh dengan 100 bab tersebut, ketahuilah bahwa tiap babnya hanya berisi 1-2 halaman.

Bahasa yang digunakan dalam buku ini cukup sederhana dan mudah dimengerti. Kita akan ambil bab ke-11 yang berjudul “Bayangkan Setiap Orang Sudah Mendapat Pencerahan Kecuali Anda”. Meski judul yang diberikan memang agak membingungkan, tapi penjelasan di dalamnya sederhana saja. Jika kita bertemu orang yang ugal-ugalan di jalan, anggaplah bahwa orang tersebut membawa “pencerahan” bagi kita. Orang itu memang dipertemukan dengan kita saat itu untuk mengajarkan kita makna sabar. Saya dapat menarik kesimpulan demikian, karena begitulah yang tertulis di buku.

Kesederhanaan dalam berbahasa ini tentu saja berkat keahlian Richard selaku penulis. Namun, melihat bahwa buku ini merupakan hasil terjemahan maka saya akan mengacungkan jempol pada Siti Gretiani selaku penerjemah. Mungkin kita sering menemukan buku terjemahan yang seharusnya mendapat five stars karena topik yang diangkat, tapi karena terjemahan yang rancu, membuat kita cenderung malas menghabiskannya. Maka tentu saja, hal ini menjadi suatu kelebihan yang patut dipetik dari buku ini. Membaca buku ini tidak menguras energi lebih banyak meski ia hasil terjemahan.

Mata saya juga rasanya amat dimanjakan lewat jenis fon yang nyaman untuk dibaca serta ukurannya yang tidak terlalu besar, pun tidak terlalu kecil. Tepat seperti saat pertama kali mata saya mendapati sampul yang menarik karena memberi kesan simpel dan tegas, lewat warna kuning nyentrik yang dipadukan dengan fon hitam bold-nya.

Hanya saja, layout yang disajikan agaknya kurang tepat. Saat membaca, saya sering merasa terganggu dengan adanya kalimat kutipan yang diperbesar di tengah-tengah paragraf. Ini menimbulkan distraksi ketika membaca paragraf sebelumnya, atau hendak beralih ke paragraf selanjutnya. Buku ini akan semakin keren jika di penerbitan selanjutnya, kalimat kutipan dapat diletakkan di akhir bab, atau diberi ruang khusus satu halaman.

By Ridha Noor Amalia

Halo! Semoga kamu suka tulisan saya. Jangan lupa share, ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!