Mereka kira kami sedang bercanda
Kertas berisi sekumpulan nama di jendela hanya omong kosong belaka
Puluhan buku hitam di rak cokelat adalah rekayasa
Surat panggilan orang tua hanya drama

Lalu kami ini boneka?
Menurut mereka kami hidup dengan baterai yang tertanam di kepala
Tidaklah kami makan kecuali dengan rumput di pinggir pagar
Kami juga tak perlu air dan cahaya
Bagi mereka, mata kami setajam burung hantu dalam gelap gulita

Mereka menuntut pahala
Jika anak-anak itu tidak berkumpul dan berdoa, maka kamilah yang berdosa
Mengancam seolah akan mencabut nyawa
Menggertak demi jabatan dan posisi
Berlagaklah paling ahli dalam membangun generasi

Sungguh mereka lupa
Mimpi kami tetap indah sekalipun dalam bahaya

Tidakkah mereka lebih cerdas dibandingkan lima tokoh utama?

Mereka bertengkar dengan kabel yang tembaganya sudah mereka potong sendiri
Mereka berteriak seolah dicurangi padahal memang,
Demikianlah gambaran isi kepala mereka sendiri

Mereka tidak mengerti
Perkara ini, banyak dunia bermain yang kelak akan patah hati

Enam bulan yang akan datang
Ruang berhantu yang mereka tinggalkan tanpa perasaan
Yang kami peluk agar tetap bahagia dan damai dengan keadaan
Mungkin akan menunduk menahan pilu
Tak apa. Akan kami sisipkan obat rindu.

By Ridha Noor Amalia

Halo! Semoga kamu suka tulisan saya. Jangan lupa share, ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!